Sabtu, 06 Juni 2009

Pengaruh Gamelan Jawa Terhadap Komposisi Musik

Pengaruh Gamelan Jawa Terhadap Komposisi Musik Claude Debussy

January 10, 2008 in Culture, Psychology

Pada Tahun 1889, dalam rangka memperingati seabad revolusi Prancis, negara tersebut mengadakan sebuah pekan raya sekaligus acara peresmian menara Eiffel. Pada kesempatan tersebut, ditampilkan pemandangan yang cukup asing bagi masyarakat Eropa. Beberapa gong perunggu dan gamelan Jawa. Begitu dimainkan, bunyi-bunyian gending yang khas dan ritme harmonisnya yang asing menginspirasi seorang musisi klasik besar dunia, Claude Debussy, yang ketika itu berumur 27 tahun.

Alat pemukul gending yang berat dan alat tabuh untuk memainkan gamelan tersebut menghasilkan melodi yang berdasar pada dua irama (yang disebut laras) yang berlainan ritmenya. Masing – masing laras diikuti oleh alunan gending dengan ritme yang berbeda pula. Laras Slendro terdiri dari lima interval dalam satu oktaf, sedangkan laras Pelog terdiri dari tujuh interval yang tidak sama. Laras Slendro wajib digunakan dalam pertunjukkan wayang kulit, sedangkan laras Pelog biasa digunakan mengiringi tari – tarian perempuan atau pertunjukkan ketoprak. Pembagian laras dalam lima interval (pentatonis) pada gending Jawa sangatlah asing bagi telinga Eropa yang biasa menggunakan tujuh interval.

Walaupun demikian menurut Debussy, seni musik Timur yang kebanyakan tidak memiliki tujuh interval (dari gamelan Thailand, Jawa, Kecapi Sunda sampai Kecapi Cina) memiliki kemiripan dengan teknik permainan piano Eropa dengan tuts – tuts mekanis yang menghasilkan irama harmonis yang tidak berhubungan dengan alunan alat – alat tabuhnya. “Jika anda mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, Anda harus mengakui bahwa musik kita tak lebih daripada sekadar bunyi – bunyian dasar sirkus keliling ”, Ujar Debussy. Selain itu menurut Debussy, struktur musik Jawa tidak memberi kesempatan ego individual untuk menjadi musisi handal ala barat. Bakat artistik dan teknik individu dalam musik Jawa menjadi elemen sekunder. Keseluruhan harmoni musik gamelan menjadi inti dari dan filosofi musik tersebut, dan bukan permainan individual.

Kekaguman Debussy terhadap musik gamelan Jawa terlihat dari warna nada pentatonik pada karya – karya seperti Pagodes (Pagoda), d’Estampes (ilustrasi), dua belas prelude (1910 – 1913), La fille aux cheveux de lin (Gadis berambut linen), Feulis mortes (Daun – daun kering) dan masih banyak lagi karya lainnya.

Teknik bermusik yang ditunjukkan oleh Debussy adalah hasil dari inspirasi musik gamelan Jawa, Debussy mengeksplorasi efek resonansi nada – nada dari tuts yang ditekan ketika bunyinya hilang secara perlahan yang merupakan karakter dari musik gamelan Jawa.

Pada uraian diatas dapat dilihat bahwa akulturasi budaya dapat terjadi kapan dan dimana saja manusia berada. Kasus Claude Debussy yang terinspirasi oleh musik gamelan Jawa, adalah kasus yang jarang terjadi pada masa itu dalam perkembangan khazanah musik klasik Eropa. Banyak kebudayaan di Asia yang memperlakukan nada dengan bebas dalam hal ketinggian, resonansi, amplitudo atau warna nada (tonal) serta frekuensinya. Ini adalah karakter umum dari kebanyakan musik dari timur. Sedangkan Eropa (pada saat itu) adalah negeri dengan musisi – musisi klasik besar dunia yang mempersepsi bahwa musik yang baik adalah musik yang dikomposisi dengan nada – nada yang stabil, frekuensi yang teratur, amplitudo yang tetap, sebuah khazanah musik yang menekankan pada variasi melodi, dan bukan improvisasi pada setiap penggal nada. Bagaimanapun juga nada – nada yang ‘dimainkan’ inilah adalah persepsi keindahan sebuah musik bagi musisi dari timur (Maher 1997).

Pada masanya, kontak antara Claude Debussy dengan gamelan Jawa merupakan hal yang sulit terjadi begitu saja, hubungan antara negara – negara Eropa dengan negeri – negeri Hindia pada saat itu adalah hubungan dagang dan kolonialisme. Yang lebih dominan terjadi saat itu adalah imperialisme kultur dari negara penjajah kepada koloninya, dimana yang lebih sering terjadi adalah akulturasi budaya oleh koloni terhadap budaya penjajah, dan bukan sebaliknya.

Menurut kebanyakan ahli psikologi, perbedaan sensori antar manusia dari budaya yang berbeda tidaklah banyak, tidak signifikan dan tidak punya pengaruh bagi perilaku manusia tersebut. Namun inderawi semata tidak dapat menjelaskan mengapa transmisi seni budaya yang seharusnya murni merupakan persepsi estetika semata terjadi mengikuti arus gelombang sejarah, politik dan perebutan kekuasaan dan kekayaan.

Hal ini dapat dijelaskan dalam kerangka persepsi, manusia mempersepsi sesuatu sangat tergantung dari kecenderungan budaya mereka masing – masing dalam melihat sesuatu sebagai indah atau buruk, hal ini sangat berlaku pula bagi musik, bagaimana suatu bangsa memandang dirinya sendiri dibandingkan dengan bangsa lain adalah sebuah fungsi budaya, yang dapat mempengaruhi persepsi estetika. Ini menyebabkan persepsi estetika bisa merupakan gabungan rumit berbagai fungsi lain seperti kepribadian, status sosial, situasi dan kesempatan.

Dalam konteks akulturasi, persepsi yang terbuka dan siap menerima dan menghargai berbagai hal baru adalah karakter yang jelas – jelas dimiliki oleh Debussy. Ia sendiri telah dapat menangkap filosofi dari struktur musik gamelan Jawa yang memiliki karakter repetitif, tidak seperti musik klasik barat yang menekankan pada pergerakan maju dalam kerangka waktu atau perkembangan menuju sesuatu, musik gamelan Jawa menekankan pada ketiadaan waktu atau timelessness, siklus dalam musik gamelan melambangkan putaran kehidupan yang tidak pernah berakhir, kelahiran – kematian, kebangkitan – kehancuran, yang berputar terus menerus. Konsep seperti ini dalam musik barat merupakan sesuatu yang asing, dalam bahasa persepsi estetika musik, gamelan Jawa merupakan musik yang tidak enak didengar telinga orang Eropa pada masa itu. Bagaimanapun juga bagi seorang Debussy, akulturasi musik gamelan Jawa kedalam khazanah komposisi musik klasiknya merupakan sesuatu yang indah, akulturasi yang melahirkan berbagai karya besar dan dikagumi dunia.

Demikianlah, mengenai musik gamelan, Debussy menulis :

There used to be-indeed, despite the troubles that civilization has brought, there still are-some wonderful peoples who learn music as easily as one learns to breathe…”.

Sumber :

Dorleans, Bernard. 2006. Orang Indonesia dan Orang Prancis, dari Abad XVI sampai Abad XX

 


Musik Keroncong

Mari Bicara Sejarah KERONCONG


Banyak pendapat yang menyatakan bahwa musik keroncong itu adalah musik yang dibawa oleh pelaut Portugis. Tetapi ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai hal ini, misalnya seperti yang dinyatakan oleh Andjar Any.

Pada tahun 1969, Andjar Anny (tokoh musik, pengarang lagu, penulis) bertemu dengan Antonio Plato da Franca (konsul Portugal). Pada saat itu Andjar Any bertanya kepada sang konsul – apakah di Portugal ada musik keroncong, atau musik sejenis yang melahirkan musik keroncong? - Dan jawaban sang konsul adalah – tidak ada. Jangankan lagi yang berbentuk keroncong, yang diperkirakan mirip keroncong saja tidak ada.-

Maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa musik keroncong itu bukan musik import, paling tidak merupakan musik adaptasi nenek moyang kita terhadap musik yang datang dari luar. Kalaupun asing, yang asing adalah alat-alatnya saja. Bentuknya merupakan hasil karya nenek moyang kita. Bahkan perihal alat musik yang digunakannya bukan hanya seperti yang kita kenal sekarang, tetapi hal ini merupakan proses evolusi yang sangat panjang. (Andjar Any, Musik Keroncong Musik Nusantara, 1983)

Sebelum muncul lagu keroncong bahkan sebelum alat musik khas keroncong, yaitu ukulele, kata keroncong sebenarnya sudah ada, antara lain muncul dalam beberapa hal tersebut di bawah ini:

Wanita Indonesia kerap menggunakan perhiasan emas ataupun perak. Salah satu diantaranya adalah gelang yang disebut gelang keroncong, yaitu gelang yang terbuat dari emas atau perak terdiri dari 10 sampai 15 gelang tipis. Apabila pemakainya berjalan sambil melenggangkan tangannya maka akan terdengar bunyi seperti alat musik yang sekarang disebut keroncong.
Ada wayang orang, terdapat juga kata keroncong, yaitu untuk menamakan gelang yang dipakai oleh tokoh-tokoh wayang, baik oleh pria maupun wanita.

Dari sini menunjukkan bahwa kata keroncong telah lama dikenal oleh bangsa Indonesia sebelum munculnya alat musik atau lagu keroncong. (Achmad, Kriteria Musik Keroncong, 1983)

Sedangkan alat musik itu sendiri diperkirakan datangnya dari kepulauan Hawai kurang lebih pada abad ke 16. Sehingga sampai kepada lagu yang diiringi alat musik tersebut, maka lagu itupun dinamakan lagu keroncong. Demikianlah musik keroncong ini berkembang dari abad ke abad dan diterima sebagai musik Indonesia.

Dalam sejarah, alat musik ukulele ini dibawa oleh armada Portugis (1512) pimpinan Alfonso d’Alburqueque ke kepulauan Maluku. Bunyi alat musik dan nyanyian para pelaut ini dirasa aneh oleh para pribumi, karena mereka terbiasa dengan bunyi pentatonic. Mereka berusaha untuk menirukannya, tetapi terbentur suatu kenyataan bahwa cengkok serta gaya musik tradisional sangat mempengaruhi penyajian musik para pribumi itu. Inilah yang kemudian menjadi embrio musik keroncong.

Bagi bangsa Indonesia, nama itu ada maksud dan ada tujuannya. Alat musik gong disebut sebagai gong karena kalau dipukul menghasilkan bunyi “gooooooong”. Dinamakan kenong, karena kalau dipukul akan berbunyi “nooong”, atau kethuk yang jika dipukul akan berbunyi “thuk”. Nah untuk keroncong sendiri karena ada alat musik ukulele/ cuk/ krung yang kalau di bunyikan akan menghasilkan bunyi “crung”.

Lalu apakah keroncong itu? Paling tidak ada tiga hal yang berkaitan dengan keroncong, yaitu:

1. Alat musik yang bernama keroncong, yaitu ukulele/ cuk/ krung,

2. Lagu keroncong, yaitu jenis lagu yang mempunyai batasan-batasan tertentu. Salah satu contoh adalah batasan birama (baar) berjumlah 28, dengan kord yang sama meskipun berlainan lagunya. Lagu ini terbagi menjadi 3 bagian. Bagian A terdiri dari 7 birama, kemudian interlude 3 birama, disusul bagian B yang terdiri dari 10 birama, dan bagian C yang terdiri dari 8 birama.

3. Irama keroncong, yaitu sebuah irama yang mempunyai suara khas pada rythme, hasil dari petikan ukulele ditambah suara kendang dan petikan cello.

Pada mulanya irama keroncong hanya untuk mengiringi lagu keroncong, tetapi pada perkembangannya juga untuk mengiringi lagu langgam, stambul dan lagu jenis yang lain, misalnya campur sari. Pada mulanya musik keroncong bercirikan alat musik kerroncong/ ukulele, tetapi pada perkembangannya alat musik ini tidak harus ada.

B. Bentuk Lagu dan Penggolongan Musik Keroncong
Meskipun semua lagu dapat diiringi dengan irama keroncong, tetapi secara spesifik ada beberapa jenis lagu yang sangat erat dengan irama keroncong, yaitu:

1. Lagu keroncong, contohnya adalah lagu Keroncong Moritsku (n.n), Meratap Hati ( Mardjokahar). Apabila dimainkan secara asli, akan dimulai dengan intro solo biola atau flute atau gitar dengan mengambil potongan melodi klasik. Demikian juga interludenya. Sedangkan untuk koda adalah Tonika – Sub Dominan – Dominan – Tonika. Birama (baar) berjumlah 28, dengan kord yang sama meskipun berlainan lagunya. Lagu ini terbagi menjadi 3 bagian. Bagian A terdiri dari 7 birama, kemudian interlude 3 birama, disusul bagian B yang terdiri dari 10 birama, dan bagian C yang terdiri dari 8 birama. Selain itu juga ada yang memainkan keroncong ini dengan 14 birama.

2.Langgam Keroncong, contohnya lagu Bengawan Solo (Gesang), Telaga Sarangan (Ismanto). Terdiri dari 32 birama dengan susunan bagian AABA, dimana bagian B adalah refrain. Dalam hal kord, tidak terbatas pada kord yang sama. Sedangkan untuk kodanya adalah Tonika – Dominan – Tonika.

3. Stambul. Kata stambul berasal dari kata Istambul, yaitu pada saat datangnya rombongan opera Istambul, yang kemudian musik opera itu digabung dengan musik keroncong asli sehingga menhasilkan keroncong stambul. Keroncong stambul terdiri dari:

a. Stambul I, contohnya lagu Terang Bulan, Potong Padi. Ciri permainannya dimulai dengan Tonika. Terdiri dari 8 birama yang dinyanyikan 2 X 8 birama, dengan kata-kata yang umumnya berupa pantun.

b. Stambul II, contoh lagu Kenangan (Sapari & WS Nardi), Kecewa (Samsidi). Permainannya dimulai dengan solo vocal, kemudian disusul musiknya dengan kord Sub Dominan. Biasanya terdiri dari 18 birama, kodanya Tonika – Sub Dominan – Dominan – Tonika. Terdiri dari 16 birama, yang dinyanyikan 2 X 16 birama, dengan syair berupa pantun.

c. Stambul III, contohnya lagu Sarinah, Keroncong Kemayoran. Merupakan campuran antara lagu stambul dan keroncong. Harmoni dimulai dengan kord Dominanseptim lalu beralih ke Tonika, kadang-kadang sebagai pemanis juga memakai Dubbledominan.

4.Gambang Kromong. Contoh lagu Jali-Jali. Berciri tempo cepat, syairnya berbentuk pantun.

5.Langgam Jawa. Contoh lagu Yeng Ing Tawang (Andjar Anny). Bercirikan notasi pentatonic dan berbahasa jawa.

Pada mulanya instrument musik keroncong terdiri dari : 1. Gitar, 2. Ukulele 3. Banjo 4. Biola 5. Seruling/ flute 6. Mandolin 7. Rebana (Jawa Barat) atau Jidor (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Dalam perkembangan berikutnya terdiri dari 1. Biola 2. Seruling 3. Gitar 4. Cello 5. Bass 6. Banjo 7. Ukulele, yang kemudian pada perkembangan berikutnya ditambah dengan alat musik keyboard dan juga ada kalanya diberi variasi dengan campuran alat musik gamelan.

C. Evolusi dan Revolusi Musik Keroncong
Kurun waktu panjang telah menjadikan perubahan dari musik keroncong, terutama sekali pada alat musiknya dan akhirnya pada bentuknya pula. Dimulai dengan ukulele pada saat masuknya para pelaut Portugis dan seiring dengan masuknya agama Islam, maka alat musik rebana juga masuk dalam golongan alat musik keroncong. Selain itu terdapat pula alat musik mandolin. Bentuk ini bertahan hingga abad 19.

Pada dasawarsa abad ke 20, munculah berbagai orkes seperti Lief Java yang didirikan oleh Wang Suwandi (1922), yang disusul oleh orkes Melayang, Monte Carlo, dan Doodskoppen. Ada beberapa daerah sebagai tempat berkembang suburnya musik keroncong, yang paling utama adalah Solo dan juga Jakarta (daerah Tugu). Pada jaman itu keroncong masih menuju ke bentuknya. Pada tahun 1930-an mulai ada penambahan melodi harmonica bahkan juga sempritan burung. Baru secara bertahap muncullah biola sebagai melodi.

Pada tahun 1930-an juga, Sastrodirono mengadakan revolusi keroncong dengan mengganti rebana dengan petikan gitar. Hingga pada tahun 1934, Tjok Shinsu menggantikan gitar dengan cello yang dipetik secara pizzicato (thumb stick). Sapari termasuk mengadakan revolusi dengan mengganti fungsi mandolin dengan gitar tetapi tidak membawa melodi pokok, tetapi berupa contra point yang terus bergerak lincah dari awal hingga akhir lagu . Baru pada tahun 1940-an

Dalam hal lagu juga terjadi revolusi lagu keroncong. Semula syair lagu keroncong berupa pantun melayu atau parikan jawa. Tetapi pada tahun 1935 terjadi perubahan besar dalam hal syair, yaitu dengan munculnya lagu Rindu Malam.

Pada jaman pendudukan Jepang di Indonesia, keroncong yang semula adalah musik kelas bawah menjadi naik derajat karena pada waktu itu segala yang berbau barat dilarang oleh pemerintah pendudukan Jepang. Pada saat itu tak terjadi perubahan alat musik, tetapi ada perubahan dalam cara petikan, antara lain cara petik cello yang semula seperti bunyi kendang dalam gamelan berubah menjadi seperti sekarang ini. Lalu ukulele yang semula hanya berfungsi sebagai rhythm menjadi bermelodi. Dengan adanya angin segar dari penguasa pendudukan Jepang, maka bermunculanlah seniman-seniman keroncong, antara lain Samsidi, Gesang, Maryati, Suprapti. Pada saat itu terciptalah lagu-lagu antara lain: Bengawan Solo (Gesang), Pulau Jawa, Swadesi (Mardjokahar/ Kamajaya).

Pada jaman kemerdekaan Indonesia, yang pada saat itu masih terjadi perang disana-sini, maka lahirlah lagu-lagu keroncong dengan tema perjuangan. Tokoh-tokoh keroncong pada saat itu antara lain: Kusbini, Amirah, Mardjokahar, dan Samsidi.

Setelah Belanda meninggalkan Indonesia tahun 1950, maka keroncong mendapat tempat utama diatas musik yang lain. Munculah penyanyi-penyanyi legendaries, antara lain: Ismanto, Waldjinah ( menjadi juara festival/ bintang radio yang diadakan oleh RRI pada tahun 1959), S Dharmanto, Ping Astono.

Pada tahun 1960-an, timbulah fenomena baru, dengan hadirnya irama langgam jawa, yang dipelopori oleh Andjar Any (Yen Ing Tawang), yang diikuti oleh S Dharmanto (Lara Branta) dan juga Ismanto (Wuyung). Irama inilah yang kemudian mendominasi musik keroncong. Pada saat itupun munculah kelompok Tetap Segar yang dipimpin oleh Jendral Pirngadi yang menggunakan alat-alat musik elektrik dalam memainkan musik keroncong. Tetapi seiring dengan berkuasanya orde baru, akhirnya keroncong mengalami

kemunduran, karena belantika musik dikuasai oleh musik dangdut, pop, rock, dan lain-lain. Perubahan yang ada adalah masuknya alat musik keyboard.

Baru setelah tahun 1990-an, keroncong seolah lahir kembali dengan munculnya musik campur sari sebagai kelanjutan keroncong tetapi dengan corak yang baru, baik dari segi alat musiknya, cara penyajiannya, syairnya. Contohnya adalah lagu Stasiun Balapan yang dinyanyikan Didi Kempot. Selain itu keroncong juga coba dipadukan dengan berbagai jenis musik, baik pop, dangdut, rock dan sebagainya. Contohnya keroncong dipadukan dengan musik rock dan rap oleh Bondan Prakoso dengan Keroncong Protol-nya. [tulisan diambil dari blog: http://njowo.multiply.com/journal998/item/


Daftar Pustaka
Achmad, Kriteria Musik Keroncong, 1983
Any, Andjar , Musik Keroncong Musik Nusantara, 1983


7 Rahasia jadi Musisi Hebat

7 Rahasia Jadi MUSISI HEBAT

SEBENARNYA, menjadi musisi, menjadi penyanyi, composer atau segala tetek bengek yang berhubungan dengan musik, tak hanya bicara soal teknis, pembelajaran, akademis dan skill semata. Kalau ada yang berpikir bahwa menjadi musisi adalah sekadar menguasai instrument dengan baik, satu atau lebih alat musik, tampaknya bisa diperdebatkan.
Memang, menguasai instrument musik mungkin bisa disebut “sentral” ketika menjalani profesi sebagai musisi. Tapi ingat, ada hal-hal lain yang bisa membuat kamu yang tidak sejago musisi lainnya, tapi bisa berkembang dan justru bisa jadi musisi yang mumpuni.
Ada beberapa hal acuan untuk menjadi seorang musisi yang berkualitas, yang penulis sarikan dari beberapa sumber. Semoga bisa menjadi komparasi untuk memilih yang terbaik. Dan tentu saja ketika memutuskan jadi musisi, jadi musisi yang baik.  
 

  1. Aransemen:
    Kedengarannya susah, dan ternyata memang tidak mudah. Tapi ketika kamu menguasai teori musik dasar, sebenarnya saat itu kamu bisa belajar soal aransemen ini. Lakukan eksperimen dengan instrument yang kamu kuasai dan mulailah berkreasi dengan musikmu.
  2. Aksi Panggung:
    Setelah bisa membuat aransemen, cari panggung dan peluang yang bisa membuat karyamu didengar dan diapreasiasi orang. Untuk pemula atau yang baru merintis karir sebagai rockstar atau popstar, penguasaan panggung, komunikasi dengan audiens, adalah pengalaman berharga dan pasti penting. Kelak, kamu bisa memilih panggung mana yang ingin kamu main. Dengan catatan, apresiasi terhadap musikmu mulai didapat. Kalau untuk pemula, panggung-panggung lokal dan kecil, bolehlah dicoba sebagai pemanasan.
  3. Gabung Ke Komunitas Musik
    Mencari komunitas atau lingkungan bermusik yang sehat, tentu akan membuat skill dan kemampuan personalmu meningkat. Kalau berada di area yang sama sekali tidak ngerti teknis, komposisi dan aransemen, agak sulit tentunya untuk mengembangkan diri. Bergabung dengan band, paduan suara, chamber,  atau orkestra, bisa mengasah teknis invidu kamu.
  4. Intim Dengan Instrumen
    Ternyata keintiman dengan alat musik dan instrument yang kita kuasai, memberi satu sugesti untuk bisa memainkannya dengan fun, rileks dan menggunakan hati. Ini tidak melulu bicara soal waktu belajar yang ditambah, waktu kursus yang digeber, atau latihan ngeband-nya juga ditambah. Tapi lebih kepada ‘perasaan’ memiliki ‘rasa’ dan emosi yang bisa didapat dari instrumen yang dikuasai. Misalnya, seorang gitaris harus tahu dan paham benar soal string, titi nada yang nyaman dan bisa memainkannya dengan enak dan menyenangkan. Atau seorang pemain biola [violinist] yang mengerti suara instrument itu, seolah sedang menikmati suara itu sendiri.  Kepekaan emosional dengan instrument ternyata jadi hal penting.
  5. Diversify (kreatif & unik)
    Sebagai seorang musisi, mungkin kita punya acuan musik yang jadi kiblat kita. Tapi mencoba menelisik dan kemudian belajar menikmati musik yang tidak biasa kita dengar, akan membantu wawasan kita. Misalnya kamu tidak suka dengan ska, punk atau rock misalnya. Cobalah “menyentuhnya’ dengan alat musikmu. Kadang-kadang ditemukan satu “kenikmatan” dan style musik yang enjoy dan fun, dari ketidaksukaan terhadap musik itu sendiri. Paling tidak punya pengalaman baru bermain-main di area yang tidak kita kenal sebelumnya.
  6. Mendengar, Mendengar & Mendengar Musik
    In Melatih kepekaan telinga terhadap musik. Hal ini harus kita latih terus menerus dibanding sekadar bermain musik tanpa juntrungan yang jelas. Di era sekarang yang teknologi sudah di depan mata, ada banyak cara dan peluang untuk mendengar dan mengerti sebuah komposisi dengan lebih baik. Ini akan membantu kita, saat mendengar satu komposisi musik yang mungkin kurang nyaman baik dari karya sendiri atau komposisi milik musisi lain.
  7. Diet Musikal:
    Mungkin istilah ini terasa aneh. Tapi maksudnya begini. Seperti orang yang sedang diet, kamu harus fokus dengan instrument apa yang ingin kamu mainkan. Itu tentu saja untuk mendapat hasil terbaik.  Fokus dan berlatih menjadi salah satu acuan untuk menjadi seorang musisi yang baik dan berhasil.

    Guys, apa yang sudah dibeber, mungkin secara teoritis. Tapi apa yang sudah ditulis di atas, berdasar penelitian ilmiah di Inggris loh. Tapi rasanya, di Indonesia pun tidak jauh berbeda bukan? So, Siap jadi musisi? [joko.moernantyo]


http://www.kanalmusik.com


Kamis, 04 Juni 2009

Teknik Memukul Rimshot

Teknik memukul: RIMSHOT!!!

Masih banyak drummer-drummer baru, bahkan yang sudah lama bermain drum tidak mengetahui pukulan yang dinamankan rimshot.

Suatu hari ketika saya menjadi salah seorang tim penilai pada saat audisi festival drum (music) tahun 2000, saya melihat 2 atau 3 orang drummer yang main dengan pukulan yang keras, tetapi kenapa suara snare-nya tetap saja tidak terdengar (terdengar sih, tapi suara pelan dan tidak tajam). Dan sepertinya dia mencoba memukul keras-keras snarenya supaya terdengar, tetapi sia-sia. Kemudian saya lihat yang ternyata dia tidak menggunakan teknik Rimshot pada snare-nya sehingga suaranya pelan dan tidak tajam.

Banyak drummer yang susah payah mencari suara snare yang bagus, sampai-sampai mereka mengganti head, men-tune snarenya dengan tensi yang berbeda-beda dan bahkan ada juga yang sampai membeli snare baru. Mereka tidak tahu kuncinya untuk mendapatkan suara snare yang tajam dan bagus...yaitu Rimshot!

Sebenarnya tidak ada salahnya anda tidak menggunakan rimshot. Teknik memukul biasa sering digunakan pada lagu-lagu country, pop. Tetapi jika anda memainkan musik rock, fusion, funk, latin, jazz dan metal yang anda butuhkan andalah RIMSHOT!

Jika anda belum tahu mengenai rimshot, lihatlah gambar dibawah ini.



Ini adalah pukulan biasa. Ujung stick hanya memukul drumheadnya saja, suara yang dihasilkan tidak terlalu fokus apalagi jika dipukul keras dan drumheadnya akan cepat menjadi cekung.



Ini adalah pukulan Rimshot. Stick mengenai drumhead dan rim pada snare secara bersamaan, sehingga suara yang dihasilkan nyaring, penuh dan tajam, dengan pukulan seperti ini maka drumhead, rim dan shell akan 'bersuara' sehingga lebih terdengar karakter snare drumnya. Biasakanlah bermain dengan menggunakan teknik ini. Teknik ini merupakan keharusan jika anda hendak rekaman. Jadi, biasakanlah menggunakan teknik ini pada setiap lagu yang anda mainkan.

www.klinikdrum.com

 


Rank & Visitors

 

Site Info

Followers

Adhiebe'SBlog Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template