Pengaruh Gamelan Jawa Terhadap Komposisi Musik Claude Debussy
January 10, 2008 in Culture, Psychology
Pada Tahun 1889, dalam rangka memperingati seabad revolusi Prancis, negara tersebut mengadakan sebuah pekan raya sekaligus acara peresmian menara Eiffel. Pada kesempatan tersebut, ditampilkan pemandangan yang cukup asing bagi masyarakat Eropa. Beberapa gong perunggu dan gamelan Jawa. Begitu dimainkan, bunyi-bunyian gending yang khas dan ritme harmonisnya yang asing menginspirasi seorang musisi klasik besar dunia, Claude Debussy, yang ketika itu berumur 27 tahun.
Alat pemukul gending yang berat dan alat tabuh untuk memainkan gamelan tersebut menghasilkan melodi yang berdasar pada dua irama (yang disebut laras) yang berlainan ritmenya. Masing – masing laras diikuti oleh alunan gending dengan ritme yang berbeda pula. Laras Slendro terdiri dari lima interval dalam satu oktaf, sedangkan laras Pelog terdiri dari tujuh interval yang tidak sama. Laras Slendro wajib digunakan dalam pertunjukkan wayang kulit, sedangkan laras Pelog biasa digunakan mengiringi tari – tarian perempuan atau pertunjukkan ketoprak. Pembagian laras dalam lima interval (pentatonis) pada gending Jawa sangatlah asing bagi telinga Eropa yang biasa menggunakan tujuh interval.
Walaupun demikian menurut Debussy, seni musik Timur yang kebanyakan tidak memiliki tujuh interval (dari gamelan Thailand, Jawa, Kecapi Sunda sampai Kecapi Cina) memiliki kemiripan dengan teknik permainan piano Eropa dengan tuts – tuts mekanis yang menghasilkan irama harmonis yang tidak berhubungan dengan alunan alat – alat tabuhnya. “Jika anda mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, Anda harus mengakui bahwa musik kita tak lebih daripada sekadar bunyi – bunyian dasar sirkus keliling ”, Ujar Debussy. Selain itu menurut Debussy, struktur musik Jawa tidak memberi kesempatan ego individual untuk menjadi musisi handal ala barat. Bakat artistik dan teknik individu dalam musik Jawa menjadi elemen sekunder. Keseluruhan harmoni musik gamelan menjadi inti dari dan filosofi musik tersebut, dan bukan permainan individual.
Kekaguman Debussy terhadap musik gamelan Jawa terlihat dari warna nada pentatonik pada karya – karya seperti Pagodes (Pagoda), d’Estampes (ilustrasi), dua belas prelude (1910 – 1913), La fille aux cheveux de lin (Gadis berambut linen), Feulis mortes (Daun – daun kering) dan masih banyak lagi karya lainnya.
Teknik bermusik yang ditunjukkan oleh Debussy adalah hasil dari inspirasi musik gamelan Jawa, Debussy mengeksplorasi efek resonansi nada – nada dari tuts yang ditekan ketika bunyinya hilang secara perlahan yang merupakan karakter dari musik gamelan Jawa.
Pada uraian diatas dapat dilihat bahwa akulturasi budaya dapat terjadi kapan dan dimana saja manusia berada. Kasus Claude Debussy yang terinspirasi oleh musik gamelan Jawa, adalah kasus yang jarang terjadi pada masa itu dalam perkembangan khazanah musik klasik Eropa. Banyak kebudayaan di Asia yang memperlakukan nada dengan bebas dalam hal ketinggian, resonansi, amplitudo atau warna nada (tonal) serta frekuensinya. Ini adalah karakter umum dari kebanyakan musik dari timur. Sedangkan Eropa (pada saat itu) adalah negeri dengan musisi – musisi klasik besar dunia yang mempersepsi bahwa musik yang baik adalah musik yang dikomposisi dengan nada – nada yang stabil, frekuensi yang teratur, amplitudo yang tetap, sebuah khazanah musik yang menekankan pada variasi melodi, dan bukan improvisasi pada setiap penggal nada. Bagaimanapun juga nada – nada yang ‘dimainkan’ inilah adalah persepsi keindahan sebuah musik bagi musisi dari timur (Maher 1997).
Pada masanya, kontak antara Claude Debussy dengan gamelan Jawa merupakan hal yang sulit terjadi begitu saja, hubungan antara negara – negara Eropa dengan negeri – negeri Hindia pada saat itu adalah hubungan dagang dan kolonialisme. Yang lebih dominan terjadi saat itu adalah imperialisme kultur dari negara penjajah kepada koloninya, dimana yang lebih sering terjadi adalah akulturasi budaya oleh koloni terhadap budaya penjajah, dan bukan sebaliknya.
Menurut kebanyakan ahli psikologi, perbedaan sensori antar manusia dari budaya yang berbeda tidaklah banyak, tidak signifikan dan tidak punya pengaruh bagi perilaku manusia tersebut. Namun inderawi semata tidak dapat menjelaskan mengapa transmisi seni budaya yang seharusnya murni merupakan persepsi estetika semata terjadi mengikuti arus gelombang sejarah, politik dan perebutan kekuasaan dan kekayaan.
Hal ini dapat dijelaskan dalam kerangka persepsi, manusia mempersepsi sesuatu sangat tergantung dari kecenderungan budaya mereka masing – masing dalam melihat sesuatu sebagai indah atau buruk, hal ini sangat berlaku pula bagi musik, bagaimana suatu bangsa memandang dirinya sendiri dibandingkan dengan bangsa lain adalah sebuah fungsi budaya, yang dapat mempengaruhi persepsi estetika. Ini menyebabkan persepsi estetika bisa merupakan gabungan rumit berbagai fungsi lain seperti kepribadian, status sosial, situasi dan kesempatan.
Dalam konteks akulturasi, persepsi yang terbuka dan siap menerima dan menghargai berbagai hal baru adalah karakter yang jelas – jelas dimiliki oleh Debussy. Ia sendiri telah dapat menangkap filosofi dari struktur musik gamelan Jawa yang memiliki karakter repetitif, tidak seperti musik klasik barat yang menekankan pada pergerakan maju dalam kerangka waktu atau perkembangan menuju sesuatu, musik gamelan Jawa menekankan pada ketiadaan waktu atau timelessness, siklus dalam musik gamelan melambangkan putaran kehidupan yang tidak pernah berakhir, kelahiran – kematian, kebangkitan – kehancuran, yang berputar terus menerus. Konsep seperti ini dalam musik barat merupakan sesuatu yang asing, dalam bahasa persepsi estetika musik, gamelan Jawa merupakan musik yang tidak enak didengar telinga orang Eropa pada masa itu. Bagaimanapun juga bagi seorang Debussy, akulturasi musik gamelan Jawa kedalam khazanah komposisi musik klasiknya merupakan sesuatu yang indah, akulturasi yang melahirkan berbagai karya besar dan dikagumi dunia.
Demikianlah, mengenai musik gamelan, Debussy menulis :
“There used to be-indeed, despite the troubles that civilization has brought, there still are-some wonderful peoples who learn music as easily as one learns to breathe…”.
Sumber :
Dorleans, Bernard. 2006. Orang Indonesia dan Orang Prancis, dari Abad XVI sampai Abad XX




